Thursday, June 19, 2014

PENYEJUK KALBU oleh Ustad H. Adeng Fathurrahman Hanafi

Jangan Biarkan Dengki Bercokol di Hati


Alhasadu ya’kulul hasanaati, kamaa ta’kulun-naa-rul hathaba
Artinya:  Dengki itu memakan kebaikan, tak ubahnya sebagaimana api memakan kayu kering .

Di masyarakat kita, banyak sekali kejadian yang sangat memilukan.  Gara-gara adanya penyakit hati yang satu ini, dengki, sebuah persahabatan menjadi pecah tidak keruan, dan kedekatan keluarga menjadi sia-sia. Yang seharusnya mereka saling menanam kasih sayang, malah sebaliknya, jadi seperti musuh yang sewaktu-waktu siap menjatuhkan lawan.  Atau, apabila ada sedikit saja pemicu masalah, yang sesungghnya  sepele dan sederhana, karena di hati sudah ada bibit dengki, maka bisa menjadi tombol peledak pertengkaran yang hebat dan membahayakan. Dengan bibit dengki ini. hanya dalam waktu  sekejap, amal kebaikan yang sudah lama ditanam, akan terhapus karena diungkit dengan kata-kata nyelekit, membuat hati pun sakit. Itulah akibat ada rasa dengki yang tumbuh subur di hati bila tidak segera diobati.

                Di dalam riwayat, awal mula  Adam AS melakukan kesalahan sehingga terusir dari surge sehingga harus merana di dunia, karena tipu daya Iblis lantaran ada bibit kedengkian pada hati sang Iblis. Iblis begitu merasa dengki  kepada Adam karena ia diperintah Allah Swt harus  sujud kepada Adam. “Eeeh… entar dulu. Apa hebatnya ente Adam. Ane  kan tercipta dari api, sementara   ente, lha… hanya dari lempung hitam dan kotor.!  Ogah banget  ane harus sujud ame ente Adam.  Sorri ya…“ Begitu kali kalau Iblis bicara pake logat Betawi.

                Iblis menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Adam AS karena sombong. Dari sifat sombong dan takabur itu, tumbuh rasa dengki. Lalu Iblis pun berupaya untuk memperdaya Adam agar sama-sama tergolong makhluk yang nista, tercela karena berbuat dosa. Maka, dengan tipu daya dan akal liciknya, Iblis menggoda Adam  dan Hawa agar  mau memakan buah larangan. Adam terperdaya Iblis, karena di hatinya ada setitik kecil “rasa rakus”. Adam kuatir kehilangan “fasilitas” kenikmatan sorga. Ia ingin meraup sebanyak-banyaknya nikmat, kekal,  dan tidak ada akhirnya.  Maka, Adam pun terlempar dari surga dan harus mengalami hidup merana sekian lama. Bahkan, sempat terpisah dari belahan hatinya, Ibu Hawa tercinta.

                 Menurut Imam Ghazali dalam kitab Ihya ‘ulumuddin, pintu masuk rasa dengki ke hati itu banyak sekali.  Namun bila ditelusuri, ternyata  dengki itu masuk melalui tujuh pintu. Ketujuh pintu tempat masuknya dengki itu adalah, permusuhan, merasa diri paling mulia, takabur, -heran terhadap diri sendiri, takut dan khawatir kehilangan yang paling dicinta, keinginan untuk terus berkuasa atau memimpin, dan yang ketujuh adalah sikap keji dan kikir.

                Di masyarakat, acap terlihat, ada orang yang merasa tidak suka pada yang lain yang sedang dibuai limpahan sejuta nikmat.  “Aku benci  melihatnya!” Dia berupaya agar semua kebaikan itu hilang dari orang yang dianggap musuhnya itu. Kasus dengki semacam ini, tidak hanya terjadi pada orang yang kedudukan dan taraf hidupnya sepadan. Adakalanya menimpa juga pada orang biasa yang merasa “gerah” melihat atasannya semakin kaya dan  bahagia. Dia dilanda rasa  dengki, dan itu sangat merusak hati karena merasa diri paling mulia dan lebih berhak menerima semua kenikmatan dibanding orang yang diangap sebagai musuhnya itu. Kalangan filusuf mengkategorikan orang semacam ini sedang dilanda at-tauzzuz.

                Dengki ini mendatangkan bahaya antara lain dapat menghapus kesan kebaikan dan merusak tali persaudaraan, membuat diri takabur, bila tidak segera disembuhkan, dapat menjadi penyakit bawaan yang tidak terlihat nyata. Orang yang punya rasa dengki ini juga selalu melihat keatas dalam hal nikmat, dan suka bersaing  tidak tidak sehat.

Lantas bagaimana cara praktis mengikis rasa dengki di hati? Mari kita sama-sama sadari, bahwa dengki itu  akan membawa kemudharatan terhadap urusan agama maupun dunia . Tadi sudah  disebutkan dalam kata pembuka, bahwa dengki  itu akan melenyapkan amalan bagai api membakar kayu. Yang lebih menyakitkan hati dan rugi, biasanya, yang menang justru ada pada pihak yang didengki.

Dengki itu memang sohibnya setan. Dengan m,embiarkan dengki bercokol di hati, maka manusia itu akan menjadi budaknya apa yang dicintainya. Apakah itu harta, tahta, keluarga, atau benda.  Ingat, bahwa setiap kejahatan itu pada akhirnya akan kembali pada si pembuatnya. Apakah itu kembali secara lahiriah, atau secara symbol-simbol yang membuat tidak ada tenangnya hati.  Untuk itu, mungkin akan terlihat lebih bijaksana manakala kita dapat bersikap m,erendah di hadapan lawan, dan niatkan dalam hati, agar setiap hari mencoba berintrofeksi dan memperbaiki  diri dari segala keburukan dan kerusakan hati.      

                Sabda Nabi SAW, tak ada dengki  selain dalam dua hal. Pertama, orang yang diberikan oleh berupa harta, lalu harta itu diarahkan hingga habis guna membela kebenaran. Kedua, orang yang diberi Allah ilmu pengetahuan, lalu diamalkan ilmu itu dan diajarkan kepada manusia.

Firman Allah SWT dalam Al-Quran, “Dan kami buangkan segala kedengkian yang ada dalam hati mereka (sehingga merekamenjadi) bersaudara, berhadap-hadapan diatas hambal”.

                Saat kita melaksanakan umrah maupun haji, bnuang jauh sifat dengki ini, dan sembuhkan sesegara mungkin. Kita sama-sama berdoa di depan Ka’bah saat umrah maupun haji, semoga Allah SWT senantiasa memelihara hati kita semua dari sifat dengki.                


                 


Ariesta Tours Travel
Tang City Business Park Blok E/21
Jl. Jend. Sudirman, Cikokol - Tangerang
Telp. 622129239701, 622129239702
Fax. 622155781791
e-mail : ariestatourstravel2014@gmail.com